Jumping Rope

ReviewReviewReviewReviewReviewThe ArrivalMay 3, '08 12:01 PM
for everyone
Category:Books
Genre: Comics & Graphic Novels
Author:Shaun Tan
Sudah lama sekali nggak ngerasain sensasi ini: rasa deg-deg-byar setiap kali membuka halaman berikut dari sebuah buku! Asli jadi merinding setiap kali hampir tiba ke halaman berikut, seperti yang nggak siap akan kejutan hebat! Sensasi ini baru saya dapat dari The Arrival, sebuah buku cerita bergambar tanpa kata karya Shaun Tan. Inti kisahnya adalah pengalaman yang dialami siapa pun yang pernah berpindah ke suatu tempat tinggal baru dan sama sekali asing. Tapi caranya menggambarkan itu sangat nyata sekaligus surreal. 'Unik' bukanlah kata yang tepat digunakan untuk karya dahsyat ini: ia lebih dari itu!

Nggak nyesel beli hard cover selebar A3, dengan kualitas kertas yang yahud dan cetakan sempurna. Makasih utk Motulz dan Yandi yang udah mau dititpin :)

Silakan mengicipi beberapa halamannya di http://www.shauntan.net/books.html

THE ARRIVAL
Shaun Tan

Reading level: Young Adult
Hardcover: 128 pages
Publisher: Arthur A. Levine Books (October 1, 2007)
Language: English
ISBN-10: 0439895294
ISBN-13: 978-0439895293


ReviewReviewReviewReviewReviewTesaurus Bahasa IndonesiaFeb 25, '08 8:48 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Reference
Author:Eko Endarmoko
Ketika sering menulis dalam Bahasa Inggris, dengan mudah saya bisa memakai thesaurus pada dashboard-nya MacBook. Atau tinggal meraih dua kamus Thesaurus koleksi kami di lemari buku.
Namun, kala harus juga banyak menulis dalam Bahasa Indonesia, saya seringkali 'mati gaya' kalau harus mencari padanan kata, atau mendapatkan istilah yang tepat. Jadi jelaslah bahwa saya senang sekali akhirnya Bahasa Indonesia punya thesaurus-nya sendiri!

Sampul tebalnya lumayan membuat buku ini berat dibawa-bawa, memang, tapi setidaknya akan bertahan lebih lama ketimbang sampul tipis. Terutama bila buku ini sering dipergunakan, dibuka-buka berulang-kali. Cerukan untuk setiap bab huruf di sisi 'luar' buku (yang mirip seperti cerukan tiap-tiap pasal pada alkitab) sangat membantu pencarian kata. Kamus ini lumayan ramah pada penggunanya :)
Sangat direkomendasikan bagi para pecinta dan pengguna aktif Bahasa Indonesia!

Judul: Tesaurus Bahasa Indonesia
ISBN: 979-22-2447-5
Penulis: Eko Endarmoko
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tanggal terbit: Desember - 2006
Jumlah Halaman: 736
Jenis Cover: Hard Cover
Dimensi(LxP): 150x230mm
Kategori: Kamus Umum


ReviewReviewReviewSPARX the CompendiumFeb 8, '08 6:11 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Comics & Graphic Novels
Author:sparxlings
Ketika ada posting di milis tentang terbitnya SPARX, saya sedang sibuk2nya menyembuhkan diri di RS Borromeus. Tentu saja saya penasaran untuk mendapatkan majalah cergam ini. Mengingat waktu dan mobilitas yg sangat terbatas, saya hampir pesimis bisa membelinya tanpa harus pergi ke toko2 buku besar. Tapi rasa pesimis itu ternyata tidak perlu, sebab – suatu hari ketika sedang kontrol di Borromeus – mata saya tertumbuk ke sebuah majalah berjudul SPARX yg terselip di antara berbagai majalah dan tabloid, di kios2 koran emperan! Ternyata nggak perlu jauh2 ke toko buku! (Belakangan saya jadi memperhatikan kios2 sejenis di emper2 supermarket dan pasar, memang gampang menemukan SPARX di tempat2 itu).

OK, karena setelah (dinyatakan) sembuh saya langsung keluar kota selama beberapa hari, SPARX yg sudah saya beli baru terbaca beberapa hari belakangan ini. Formatnya ramah (sedikit lebih besar dari A5, mudah dibawa2, dimasukkan tas, dibaca sambil ngopi bahkan makan), kualitas kertas untuk sampul dan isinya bagus. Mari kita lihat isinya..

Ada lima cerita berbeda di album perdana ini, masing2 bersambung ke edisi berikutnya. Kisah pertama mudah dinikmati karena kualitas gambarnya yang baik. Bukan garis2 outline mati yg terlihat, tapi juga tapak sketsanya: garis2 halus arsiran yang menghidupkan seluruh adegan. Proporsi bentuk, sudut pandang dan pacing-nya enak diikuti, sehingga ceritanya menjadi jelas. Nah, ceritanya sendiri, meskipun berintikan kekuatan super, bukanlah jenis yang sekedar menampilkan adegan laga. Ada humor di sana, juga ambisi, yang semuanya masih dapat diterima logika. Sebuah kisah yang patut ditunggu, mudah2an kualitasnya dapat konsisten.
Cerita kedua ber-setting waktu masa depan dan lokasi ruang angkasa. Ya, ini termasuk fiksi sains. Ada blocking warna2 kelabu sebagai bayangan bentuk pada outline hitam, tapi somehow gambarnya masih terlihat datar. Inti ceritanya adalah kaum pekerja, yang masa itu beremigrasi bukan lagi dari pulau ke pulau, tapi dari galaksi ke galaksi. Akan bisa lebih menarik bila jalan ceritanya mengalur dengan lebih mulus.
Kisah ketiga berupa prosa yang diselingi ilustrasi. Keberadaan prosa dalam sebuah kompilasi cergam itu sendiri bukanlah masalah. Tapi saya tidak sanggup membacanya lebih dari halaman pertama. Banyak ketidak-cocokan dengan selera saya, baik soal gaya bahasa maupun isi cerita. Setelah skimming sedikit, sepertinya cerita ini ditujukan pada orang2 yang terbiasa bermain computer games, yang melibatkan tokoh2 dengan banyak nama, dengan ‘senjata’ dan domain masing2, dan syarat demi syarat utk dapat melaju ke tahap berikut. Namun ilustrasinya sangat memikat. Semacam sketsa yang hampir selesai, lumayan matang, sudah dengan kejelasan dimensi di sana-sini. Garis2nya spontan dan berkarakter.

Setelah ini terdapat kisah lain dengan gaya gambar yang berbeda. Setting ceritanya juga di lokasi dan waktu yang tidak terjangkau oleh kita sekarang, dengan inti cerita persaingan antar mafia dan geng2 yang lebih kecil utk bisa survive di dunia yg sudah hancur tsb. Tampilannya menarik, dengan efek seperti cat basah, blur, dengan perhitungan bayangan yang cukup baik. Meskipun demikian, sebenarnya bisa menjadi lebih baik lagi, misalkan bila hurufnya dibedakan antara narasi dan percakapan, dan dipilih jenis huruf yang tidak monoton dan full caps. Latar belakang pun akan jadi lebih hidup bila diolah lagi.
Cerita terakhir menampilkan adegan ringkas yang berakhir dengan duel. Sarat laga, namun garis besar cerita belum dapat terasa. Tidak ada yg istimewa pada kualitas gambarnya. Kekurangan terlihat pada detail yang sedikit mengganggu: lokasi Western Europe, pada bulan Oktober. Tidak ada keterangan waktu, tapi melihat atribut lain pada cergam ini, sepertinya berlangsung dalam abad ini. Tokoh utama mengenakan rompi wind breaker, karena Oktober memang musim gugur di mana biasanya banyak angin, tapi tokoh lain dan para figuran ada yang hanya mengenakan T-shirt. Mudah-mudahan selanjutnya bisa lebih konsisten pada detail sehingga memperlancar jalannya cerita.

Secara keseluruhan, isi cergam dalam SPARX masih mengarah ke dunia fiktif dan penuh khayal. Sebuah aliran yang tentu punya penggemar sendiri. Dalam edisi pertama ini, SPARX – yang memuat cergam bersambung dengan judul2 berbahasa asing – belum dapat mengakomodasi pembaca cergam yang lebih menyukai kisah2 yg lebih lokal dan membumi. Walaupun demikian, keberadaan SPARX dapat kita sambut baik sebagai peramai dunia cergam Indonesia. Mudah2an isinya makin beragam dan dapat memacu munculnya majalah2 cergam lain di Indonesia.

3,5 bintang untuk edisi perdana SPARX
Kunjungi SPARX di http://sparxcomic.multiply.com/ untuk melihat cuplikan berbagai artworks

Bagi yang tertarik utk mengenal SPARX lebih jauh, terutama yang berada di Bandung, silakan datang ke acara berikut:

BEDAH CERGAM
Bersama Sparx dan Klab Cergam STDI

Sabtu, 9 Februari 2008
Jam 14.00-selesai
di Kampus STDI
Jl. Wastu Kencana 52 Bandung

Acara :
Mengupas habis tentang cergam Sparx bersama klab cergam STDI bandung, mulai dari cerita sampai artwork2nya.
Bocoran (preview) tentang Sparx The Compendium Edisi 2


ReviewReviewReviewReviewReviewPersepolisJan 25, '08 10:20 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Animation
This review is terribly delayed, due to weeks of having to do stuff I dislike, and it’s not even work. Anyway, I’m back and I’ll try to reminisce whatever impressions I have left for Persepolis animation.

I thought that watching a movie based on a book would never bring new sensations towards the work. Especially in this case, a full-featured cartoon based on a graphic memoir: one two-dimensional work after another. What would be different except one being dynamic and the other one static?

I’ve bought and read the books (a box set of Persepolis 1 & Persepolis 2) and deeply enjoyed their stories, wits, complexities and graphics. And there are values beyond the mere words and pictures that are charmingly combined in the books. Therefore it’s clear that I don’t want any animation version ruining my perception towards the whole stories, which are being told in an amazing way through the ‘graphic novel’ media.

But I trust Satrapi, her involvement in the project, and – of course – her insistence in achieving her artistic standards. So I was naturally very curious about the movie.

The long-awaited time came during the Jakarta International Film Festival (JIFFEST) 2007, where Persepolis was screened three times (among which, one was for the opening/ for invitation only). It didn’t take long until I asked my sister to immediately buy tickets for us (and it was a wise move, knowing the fact that tickets for Persepolis were sold out rather quickly). Right. On to the movie.

===

A prologue featured the little Satrapi in a short occurrence. Perhaps to show what kind of girl she is even at a very young age: bold, yet witty. Then came the title and credits. It’s all black and white, and two-dimensional, indeed, but it visually resembled a shadow-puppet play. The falling leaves, the wind and the wave, the dynamic shots from one object to another, the whole aura that seemed like coming from a faraway land. From here, my hope raised. I knew I would enjoy the ride!

The movie continued with a scene of the adult Satrapi, sitting in an airport, waiting for her flight to Iran, in color. She started telling her stories, narrating the whole flashback scene (yes, in B/W) to the audience.
The next I could remember were flashes of images, similar to but not quite the same with the printed ones. The animated version is more fluid, of course, and the accompanying sound effects could enhance the scenes. Sadness (death of a neighbor, jailed uncle), fright (fleeing from the patrols who found out about a party), even sweetness (fallen jasmine flowers from grandma’s bosom), cuteness (little Satrapi leading her gang) and other senses are presented so touchingly.

For those who haven’t read the book, perhaps the movie is too dense. There are indeed so many things to tell, and who knows how much one can register in one viewing.

As for me and other audience who have read the book, this movie might just be a confirmation of what we’ve read. But what I like most about it is that it’s just not a ‘moving’ version of Satrapi’s drawings – and that it didn’t bore us by telling the same stories with the same sequence. Some scenes were unexpected, and some of them were even funny! Truly an animation that plays with your emotions; the kind you can’t just watch once and forget. It is, for me, like a second treat to appreciating Persepolis. My highest compliments go to this work. I intend to acquire and treasure the DVD, for it is not a mere bunch of drawings arranged into celluloid that makes an animation: it presents a process of maturity, thoughts and values.


Image source: http://www.sonypictures.com/classics/persepolis/


ReviewReviewReviewReviewAlamku Tak Seramah DuluAug 25, '07 5:46 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Outdoors & Nature
Author:Aditya Dipta Anindita (ed.)
Buku ini berisi perubahan2 yang dialami oleh anak-anak yang tinggal di pelosok Indonesia, terutama berkaitan dengan menurunnya kualitas alam yang terjadi di habitat mereka yang sering disebabkan oleh intervensi 'kemajuan' atau 'pembangunan daerah'.

Membaca satu demi satu kisah mereka membangkitkan berbagai rasa: kagum dan bangga ketika mengetahui ketrampilan anak2 ini dalam berinteraksi langsung dengan alam, haru ketika mengetahui betapa berat perjuangan mereka sehari-hari, gemas ketika sepertinya tidak bisa berbuat apa2 untuk mencegah kerusakan lingkungan alam yang secara langsung berdampak ke kesejahteraan anak2 ini - dan juga anak2 di pelosok lain Indonesia.

Cerita2 di sini dituturkan dengan baik, setting tempat kejadian dapat terbayang dan dialog yang terjadi juga menjadikannya lebih hidup. Andai saja diilustrasikan dengan lebih banyak dan lebih baik, pasti buku ini akan menjadi lebih menarik - terutama bagi anak2 di kota2 besar yang makin menjauh dari alam bebas - supaya dapat mengenal pengalaman teman2 sebayanya, sesama anak2 Indonesia.


ALAMKU TAK SERAMAH DULU
Cerita tentang 5 anak yang bertahan di tengah lingkungan yang berubah

Penulis: Dodi Rokhdian, Rita Artanti, Pudjiningtiyas, Sunarja, Arief Rachman, Ratnasari
Editor: Aditya Dipta Anindita
Epilog: Eka Budianta
Penerbit: Yayasan Obor Indonesia, 2006
ISBN: 979-461-597-8


ReviewReviewReviewReviewKompor Mleduk Benyamin S.Aug 15, '07 9:17 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author:The Creative Library
Warna sampulnya yang pink gonjreng membuatnya sulit dilewatkan begitu saja di display toko buku. Sudah pernah saya incar buku ini di suatu toko, lalu saya beli di toko lain begitu ada kesempatan berikut, dan saya tidak menyesal. Sebagai ABG 80an yang sudah terekspos ke karya2 Bang Ben sejak kecil, tentu saja saya familiar dengan tokoh yang satu ini. Hanya saja, perlu diakui, bahwa saya tidak tahu banyak tentang beliau hingga saya membaca buku ini.

Isinya mudah dibaca, terutama karena kayanya ilustrasi yang menyertai langkah demi langkah kisah hidup Bang Ben. Cuplikan pepatah dari Bang Ben dimunculkan dengan format khusus, bagai highlight untuk tiap2 bab. Buku ini dapat menjadi inspirasi melaui sikap dan idealisme Bang Ben dalam berkarya. Si Anak Betawi yang tidak pernah berpura-pura jadi orang lain, bahkan sebaliknya: terus berusaha mengukuhkan dirinya dan akar budayanya.

Format, pemilihan kertas dan kemasan buku ini lumayan bagus. Ada bonus pembatas buku di dalamnya. Coba bonusnya CD lagu2 Bang Ben, pasti lebih mantap lagi (hehe.. maunya :P). Quite recommended, terutama untuk penggemar Bang Ben!


ReviewReviewReviewReviewReviewFragile ThingsJul 7, '07 11:33 PM
for everyone
Category:Books
Genre: Science Fiction & Fantasy
Author:Neil Gaiman
Ini kumpulan cerita pendek yang kedua dari Neil Gaiman setelah Smoke & Mirrors. Sebelum ini ada perasaan antara harap-harap cemas dan penasaran akan suka/tidaknya saya terhadap buku ini, karena mau nggak mau pasti saya bandingkan dengan Smoke & Mirrors yang sungguh sangat saya sukai. Pertama kali saya baca punya Tiyas (pinjem! hehe), belum terlalu impressed. Mungkin juga karena buku yg punya Tiyas itu formatnya yg besar dan nggak mudah dibawa (dan dibaca) ke mana2. Dan waktu itu juga belum ada waktu luang untuk membaca dan mendalami semua ceritanya karena masih konsentrasi ke yang lain.

Hingga suatu hari, saya menemukan buku ini (atas petunjuk Ayu) di Aksara Kemang, Jakarta, dalam keadaan korting dan dalam format paperback yg familiar dengan saya. Tentu saja langsung saya beli. Seperti biasanya kisah2 Neil yg lain, tidak cukup membaca suatu cerita sekali saja. Makin diulang, makin terasa asiknya mengunyah kata per kata dan menelan maknanya. Kesimpulannya, setelah berulang kali membaca, Fragile Things ini kumpulan cerita yang nggak kalah menarik dari Smoke & Mirrors. Temanya meloncat2 dari satu ke yang lain, namun semuanya tetap pada satu garis fantasi, thriller, bahkan suspense, yang sering berbumbu humor. Berikut ini beberapa judul favorit saya dari buku tsb:

October in the Chair
Para dua belas bulan duduk bersama, melingkar mengitari api unggun. Oktober yang sedang mendapat giliran duduk di Kursi memimpin acara kumpul2 ini, di mana masing2 bulan boleh saling bercerita. Cerita terpanjang adalah dari Oktober sendiri, tentang seorang anak laki2 yg minggat dari rumah dan, ketika tiba di suatu tempat, bermain semalaman dengan arwah seorang anak laki2 dari abad lalu.
Loncatan tema yg tidak disangka2 dan akhir cerita yang tidak tertebak memang khas Neil. Jauh dari membosankan.

Forbidden Brides of the Faceless Slaves in the Secret House of the Night of Dead Desire
Tau kan tipikal kastil2 tua dan para penghuninya yg mengerikan, yang sering digambarkan di film2, baik kartun maupun horor di layar lebar? Dan bahwa dunia 'yang itu' berlawanan dengan keseharian kita yg 'normal' ini, pergi kerja, baca koran, sarapan roti bakar dan kopi? Nah, di cerita yg ini semua itu dibalik. Cara Neil menuliskannya cerdas sekali!

The Flints of Memory Lane
Yang ini bisa jadi pengalaman Neil sendiri di masa remaja, ketika pertama kalinya bertemu makhluk dari dunia fana. Ceritanya sangat pendek, sederhana, namun pilihan kata2nya sempat membuat saya merinding saking membayangkan kejadian itu.

Other People
Siapa yang mengira bahwa 'neraka' itu dapat digambarkan seperti ini.

Instructions
Jika suatu hari kita memasuki negeri dongeng untuk menjalankan suatu misi, Instruksi ini pasti sangat penting untuk dibawa serta sebagai 'buku pemandu'.

How to Talk to Girls at Parties
Judulnya seperti buku2 kacangan ya. Tapi isinya tidak disangka-sangka. Cerita pendek ini telah memenangkan banyak penghargaan, dan bisa diakses di http://www.neilgaiman.com/exclusive/shortstories/partiesstory/

Sunbird
Ini tentang sekumpulan petualang kuliner, yang dalam sejarahnya sudah pernah mengicipi rasa semua makhluk yang bisa dimakan di muka bumi ini. Mereka bosan, karena sepertinya tidak ada lagi yang bisa diburu untuk dapat disantap. "Sepertinya"? Ya, karena ada satu makhluk yang belum pernah mereka makan sebelumnya: sunbird. Burung matahari, sang phoenix sendiri. Kisah ini menggambarkan perjalanan mereka memburu sunbird, memasak lalu memakannya, dan konsekuensi atas perbuatan mereka ini.

The Monarch of the Glen
Barangsiapa yang pernah membaca American Gods, pasti sudah kenal dengan tokoh utama di cerita ini, Shadow. Bab ini mengisahkan petualangan Shadow di daratan Skotlandia, di mana dia ditawari untuk menjadi petugas keamanan pada sebuah pesta mewah di sebuah kastil terpencil - namun berakhir menjadi petarung atas nama umat manusia dalam perjanjian manusia dengan makhluk lain.

Cerita di atas hanyalah sebagian kecil dari rentetan judul pada buku ini. Bagi yang dapat terhibur dengan genre semacam ini, sangat saya rekomendasikan kumpulan cerpen ini. 4,5 bintang untuk Fragile Things!

Fragile Things
Neil Gaiman (2007)
ISBN 13: 9780755334148
ISBN 10: 0755334140
Publisher: Headline 5/4/2007


ReviewReviewReviewGOKIL!May 31, '07 10:26 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Entertainment
Author:Miund
Jadi tadi akhirnya saya ke TGA BIP lagi, maksud hati mau ngecek apakah masih ada Kapten Bandung tersisa. Eh ternyata satu2nya komputer pencari di customer service sedang jebol, jadi saya bilang aja ke mas2nya, “Ya udah nyari sendiri aja deh”, sambil terus masuk ke bagian komik. Nggak nemu, berarti mungkin Kapten Bandung udah abis.
Di sebelah rak komik ada rak romance, sambil lewat keliatan baris teratas itu novel2 mistis, baris kedua novel2 film, baris ketiga chicklit.. dan di pojokan ada Gokil! Langsung ambil, bayar, trus nangkring di pujasera sambil baca buku baru ini, sambil nunggu waktunya njemput anak2 pulang sekolah..

Berhubung saya kenal Miund in person, mungkin sulit utk jadi sepenuhnya obyektif dalam menilai buku ini. Tapi saya setuju dengan Ayu (yg sudah nge-review terlebih dulu) utk menempatkannya di bawah kategori “entertainment”, sebab most likely inilah tujuan utama diterbitkannya buku ini: untuk menghibur!
Pertama, ada kejutan cukup lucu ketika plastik segel buku ini sudah lepas dan halaman pertama saya buka: ada bonus pembatas buku mungil di halaman terdepan! Kedua, kertasnya standar lah, nggak bagus2 amat (tipikal penerbit ngirit), tapi lay out-nya membuat tulisan2nya lumayan enak dibaca (← berusaha obyektif juga, secara desainernya adalah adikku). Euh.. kalo mau kritik.. cover-nya aja yg agak2 nggak kompak sama selera (I know I know, I’ll mention no more about it :D). Ketiga, dan seterusnya, adalah tentang isinya.

Tentu sensasinya beda, antara membaca blog dengan buku, meskipun isinya sama. Tentu seru baca blog-nya, karena kejadiannya aktual. Dan tentu juga versi blog-nya lebih komplit, karena tidak ada sensor utk keperluan cetak.. hehe..

Tapi tulisan2 Miund tetep enak dibaca. Meskipun campur2 antara bahasa Indonesia baku, bahasa Inggris, ekspresi2 gaul, hingga ekspresi2 ‘anak Bandung’ yang nyaris2 jadi internal jokes. Because, let’s face it, it turns out that not only she’s a fellow SR-ITB alumni; she’s also a fellow SMA 6 alumni, as well! Jadi dengan mudah terbayanglah tempat2 yg dia sebut, dan tokoh2 yg tampil di tulisan2nya (termasuk Pak Item!). Yang agak nggak terjangkau oleh saya hanyalah bila subyeknya seputar orang2 beken, sebab terus terang saya gasel (gagap seleb) and wouldn’t recognize any (current) superstar if she’s dancing in front of my face waving a neon sign saying “teenage idol here”!

Di pujasera tadi juga saya terpaksa cengengesan sendiri membaca beberapa bagian. Mungkin lagi2 karena terbayang jelas ekspresi wajah dan intonasi bicara para tokohnya yg saya kenal.
Selayaknya blog, isinya merupakan campuran curhat, pemikiran2 (agak) serius, dan cerita2 ringan kejadian saat itu. Meskipun tulisan2 ini dari seorang Miund, tapi sedikit banyak ternyata dapat mewakili seorang saya juga. Contohnya di tulisannya tentang lethal questions. You’ve nailed them, girl, right on the spots! Selebihnya, mungkin Miund memang gambaran seorang wanita muda masa kini, dengan kehidupan karir, pertemanan dan percintaannya (deuuuhh), yg kebetulan berada di tengah2 ‘generasi CiTos’ dan.. apa ya istilahnya utk angkatan sekitar saya? ‘Generasi Aldiron’ kali ya? Hahaha!

All in all, memang saya jadi terhibur baca buku ini. Meskipun saya kategorikan ke dalam kelas snack, bukan main meal, tapi Gokil! tetap saya rekomendasikan ke teman2 utk ikutan icip-icip. Keywords untuk merayu temen2 supaya ngicipin buku ini? Witty, smart, fresh and – dare I say – fashionable. Three and a half stars for Gokil!

To Miund: keep on writing, I’m dropping by your new blog as often as our $&!##y Internet connection permits – and have been enjoying it a lot!


Image source: Miund's Blog


ReviewReviewReviewKapten Bandung: Komplotan AbengMay 25, '07 6:59 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Comics & Graphic Novels
Author:Motulz
Adanya isu bahwa album ini sudah ada di pasaran membuat saya mencari2 setiap kali mampir ke toko buku. Setiap kali cek ke customer service, selalu terlihat bahwa stok sedang kosong. Tapi hari ini, di Toko Gunung Agung BIP (Bandung), tertera angka 10 pada layar komputer! Akhirnya berhasil juga album ini terpegang (ada teaser-nya di http://komik.multiply.com/photos/album/18)

Kali ini Kapten Bandung muncul berukuran A5 dan hanya setebal 32 halaman. Kertas dan cetakannya berkualitas standar, namun terlihat bahwa outline gambar tidak tercetak tegas. Melihat ukurannya, album komik ini cukup praktis bila dibaca sambil makan di gerai cepat-saji (= yang saya lakukan segera setelah membelinya).

Ceritanya cukup sederhana, tentang komplotan pencuri sepeda motor, dengan sasaran utama motor2 di kampus, yang aksinya dihentikan oleh Kapten Bandung. Terlepas dari kurangnya greget cerita dan latar belakang (setting) yg kadang2 terlalu 'sepi', album ini tetap memiliki daya tarik. Yap, apa lagi kalau bukan Kapten Bandung itu sendiri yg banyak ditunggu-tunggu oleh para kolektor yang telah mengenalnya sejak terbitan perdananya dulu. Hal lainnya, tentu saja sudut2 kota Bandung yang direkam dan digambarkan dengan baik oleh Motulz. Hanya saja sayang pembuatannya tidak konsisten: beberapa panel, bahkan halaman, diselesaikan tanpa detail (contoh, baliho di jalan berupa bidang kosong, dan tembok di jalanan terlihat bersih). Satu lagi daya tariknya, album ini mungkin bisa sedikit mengobati kerinduan akan komik bermuatan lokal.

Overall, saya beri tiga bintang utk point2 di atas, dengan harapan terbitan berikutnya bisa jauh lebih baik lagi. Ayo semangat, Tul! Ayo Pid, bikin cerita yg lebih seru lagi!


Kapten Bandung: Komplotan Abeng
Ide tokoh & cerita: Motulz
Penerbit: PT. Pendulum Multimedia Kreasi, 2007
ISBN: 978-979-1343-00-8
Harga: Rp. 17.500,-


ReviewReviewReviewH.E.M.A. Dutch RestoMay 5, '07 3:20 AM
for everyone
Category:Restaurants
Cuisine: European
Location:Jakarta
Here's the situation: it was definitely lunchtime and we needed a quick bite - one that our kids would really eat (they have become very picky recently) but no fastfood chain, please. And preferably nearby, since we had to catch our transportation back to Bandung in a couple of hours. My mother suggested this Dutch Family Restaurant, which sounds quite proper for our situation, so we went there. The restaurant is called H.E.M.A., a name not unsimilar to an established retail store in The Netherlands, but this one stands for Halal, Enak, Murah, Artistik (Halal, Tasty, Cheap, Artistic).

The interior has the notion of a wooden cottage; wooden elements (mock fences, tables and chairs, pilars) are spread around the place. Tiny gimmicks from The Netherlands can be found everywhere. You know, those small wooden 'klompen', plastic tulips, miniature windmills, cheese cutting board and Delft-blue ceramics. Feel at home yet? There's a television at one corner, broadcasting a Dutch program, although you could barely listen to it.

We quickly ordered our meals: tuna sandwich for Syb, fries and mayo for Dhanu and Lindri, a hot dog for Dhanu, fish and chips and cream mushroom and chicken soup for me. For my mother, a portion of sirloin steak. On to the food..
My soup arrived first, in a common soup-bowl, dashed with croutons and a sprig of parsley. Lindri ate all the croutons and gave the rest to me. It tasted decent, but not special.
Syb said his sandwich had a strong mayonaise taste, but hardly any tuna at all. Dhanu enjoyed his hotdog, that was completed with zig-zagged mustard and ketchup, although I wasn't impressed by the sausage at all. Both kids were happy with their fries, of course, which were cut 'Belgian-fries' style: thick, random and a bit rough. The fries were served in pressed wooden bowls, based with an oil paper, but lots of pieces were soaked and rather greasy. The 'mayonaise' was perhaps mixed with a bit of mustard, and were served in a small plate, garnished with parsley sprigs.

My fish and chips. It was probably a big mistake to order this food in a 'Dutch restaurant'. I hoped for at least a decent chunk of deep-fried fresh fish (while realizing that there's no way I would get kibbeling as a nice surprise). But what came in front of me were two patties of fried, coated frozen 'fish', which was hard to cut and evenmore to chew. Don't even ask about the taste. It's a wonder I finished them anyway. My fries were no different from the kids'. But the sauce! I thought it was tartar sauce of some sorts.. but it turned out to be a 'tuna mayonaise'! Just imagine my surprise when applying a knifepoint of that sauce to the already-ruined fish patties. Oh and of course that sauce was garnished with a parsley sprig, too.

What's for dessert? Syb ordered 'klappertaart' and a cup of black coffee, and I a portion of vanilla ice cream. The klappertaart appeared different from klaapertaarts I knew before: this one was served in a single, round aluminum baking container, and shaped like the top of a high ice cream cone. It tasted fine, though. The ice cream came in two scoops, one was dressed with strawberry syrup(?) and the other chocolate fudge. I only ate a spoon of it, the rest was claimed by Dhanu.
My mother actually ordered a portion of poffertjes as well, but it came only after we've paid and all (poffertjes included), so we had it packed to bring. I didn't get to taste it but my mother said it's just so-so.

All in all, the food was allright and edible, although not spectacular. The place was nice, the service good, the ambience friendly (nevermind the kitsch, the Dutch gimmicks and the noisy teenagers who seemed to consider this restaurant their hanging place). The toilet, however, was small but pleasant.
Will we come back to this place again? Maybe, if we feel like trying other dishes on the menu (there's hutspot met klapstuk!). It's just too bad that they don't really serve the Dutch rookworst, or ewrtensoep.


Scale 1 to 5
Service: 3,5
Food: 2,5
Ambience: 3
Price: 3,5
Total: about 3


H.E.M.A. Dutch Resto
Jl. K.H. Akhmad Dahlan No. 18
Keb. Baru, Jakarta Selatan
T +62 (21) 739 3891
F +62 (21) 725 2712
W http://www.hemaresto.com/

Drawings, coming up! :D

ReviewReviewReviewReviewRice BowlApr 13, '07 2:57 AM
for everyone
Category:Restaurants
Cuisine: Asian
Location:BIP Bandung
Resensi ini di-post juga di milis Jalansutra, msg #65886

Sebenarnya sudah sejak beberapa minggu lalu saya tahu tentang tempat makan ini, tapi agak enggan mendatanginya.Kenapa? Bukan karena lokasinya yang ‘mojok’ di lantai dasar Bandung Indah Plaza dan dikelilingi oleh kios2 yang belum buka. Tapi karena – setiap kali turun atau naik eskalator di lantai dasar yg dekat dengan tempat tersebut – selalu ada staf Rice Bowl yg berseru2, “Silakan Rice Bowl-nya!”, “Coba Rice Bowl-nya, Mbak!”, dan sejenisnya. Makin diteriaki, makin saya urung mampir.

Nah kemaren siang ini rupanya saya ‘jodo’ dengan tempat ini. Setelah sedari pagi hanya diisi bubur ayam pinggir jalan, sekitar jam dua siang - ketika akhirnya semua pekerjaan saya selesai - dalam keadaan sangat lapar, saya memutuskan utk mampir ke Rice Bowl. Kebetulan sedang tidak ada staf yg berseru2 di ujung eskalator. Ini cara meluangkan waktu yang baik sebelum berangkat menjemput anak2 di sekolah!

Ice Lemon Tea
Meskipun sudah lewat jam makan siang, beberapa meja di Rice Bowl masih terisi, dan ternyata pelanggan pun masih berdatangan. Saya memilih sebuah meja kecil di pojok ruangan, dan duduk di salah satu dari dua kursi empuk yg berhadapan. Sebelum membaca menu, saya pesan dulu minuman: ice lemon tea. Minuman ini segera datang dalam gelas tinggi, berisi bongkahan2 es batu dan cairan yg warnanya coklat pucat. Kadar manis dan asamnya cukup imbang, tapi kenapa rasanya agak sintetis ya? Minuman ini (pada menu) termasuk chef’s recommendation, jadi semestinya bukan lemon tea pabrikan, bukan?

Orange Chicken Rice Bowl
Berlanjut ke makanan. Saya pesan chef’s recommendation tanpa ‘cap cabe’ di pinggirnya (= tidak pedas): orange chicken rice bowl. Tak lama kemudian semangkuk besar porsi nasi tsb dihidangkan di depan saya. Tidak salah bahwa ini termasuk hidangan yg dijagokan, sebab tekstur dan rasanya pas. Gigitan pada potongan daging ayam bite-size bersalut tepung renyah, disusul dengan lembutnya daging dan asam-manisnya saus jeruk, sangat sesuai dengan harapan rasa yg telah dititipkan pada lidah. Condiments pada porsi tsb berupa irisan ketimun, bawang bombay dan nanas adalah juga teman2 yg cocok bagi si ayam renyah. Hanya saja sayang, nasinya tidak mudah ‘diangkat’ dengan sumpit; sangat mudah tercerai-berai dan jatuh berantakan kembali ke dalam mangkuk. Dan sayang juga daging ayamnya terlalu sedikit, sementara porsinya belum cukup meredakan rasa lapar saya.

Masa pesan lagi? Yah sekalian deh, mumpung sedang di sini dan sambil menghabiskan waktu. Saya ambil buku menu lagi sambil melirik ke meja2 lain. Wah, ada mie juga! Sepertinya yang berkuah2 hangat begitu enak utk sore2 yg dingin spt waktu itu. Mata saya segera menyisir kembali buku menu, terutama ke baris2 dengan icon ‘chef’s recommendation’ di sisinya. Foto beberapa menu yg tertera di situ sangat membantu saya membuat keputusan. Oke, karena tadi menu ayamnya sama sekali tidak pedas, kali ini saya pilih menu yang disertai satu icon cabe (ada nol, satu, dua atau tiga icon cabe pada masing2 menu, sesuai dengan tingkat kepedasannya): black pepper beef noodle (saya pilih yg home made noodle; beda sekitar 6000 IDR dengan pilihan Hong Kong noodle).

Mengamati sekitar, saya lihat para staf Rice Bowl cukup cepat tanggap. Selalu ada yg siap utk dipanggil, dan bahkan berinisiatif membantu ketika seorang pelanggan dengan bayinya menumpahkan sesuatu di meja mereka. Mungkin atribut ‘family restaurant’ memang cocok untuk tempat ini. Juga ketika dengan tidak sengaja saya menyenggol wadah saus/sambal di meja, yg berakibat cipratan2 sambal pada tangan dan permukaan meja. Seorang pelayan segera memberi setumpuk serbet kertas yg ditata di atas sebuah piring kecil.

Black Pepper Beef Noodle
Porsi black pepper beef noodle saya datang dengan kuah terpisah dalam mangkuk yg lebih kecil. Tampilannya menarik! Kalau yang tadi kaya dengan warna kuning cerah, diselingi aksen hijau dari ketimun, kali ini dominan warna coklat gelap baik dari daging sapi maupun taburan gerusan lada hitam di permukaan mangkuk dan coklat pucat dari lembaran2 mie, dengan aksen merah yg berani dari irisan cabe, hijau terang dari paprika dan pakchoy, dan kilapan2 segar dari irisan bawang bombay, daun bawang dan bawang putih. Kuah kaldunya yg sangat panas juga terlihat menarik, dengan taburan irisan tipis daun bawang. Ketika diicip, sangat terasa indikasi sari poultry – mungkin bebek dan ayam sekaligus – yang cukup mild dan dengan baik dapat mengimbangi pedasnya merica pada menu utama.

Bagian mie yang belum tercampur bumbu2 black pepper ternyata sudah terasa cukup enak. Sayur2an yg menyertai irisan daging sapi juga terasa segar, baik rasa maupun teksturnya. Namun sayang, beberapa potong daging terlalu melawan ketika digigit; cenderung alot. Padahal rasanya mantap, terutama dengan cubitan2 asyik dari serpihan2 kasar lada hitam yg bertebaran di sekujur porsi mie.

Red Bean Ice Bowl
Setelah porsi kedua ini, rasa lapar tergantikan dengan menjelang puas. “Menjelang”? Iya, sebab rasanya belum lengkap bila tidak diakhiri dengan sedikit yang manis-manis. Apalagi sebelumnya saya sudah melirik salah satu (lagi-lagi) rekomendasi si jurumasak pada buku menu: red bean ice bowl – yang porsinya saya duga cukup mungil, mengingat keadaan lambung saya yang mestinya sedang cukup sibuk mencerna makanan2 sebelumnya. Jadi dengan yakin saya pesan dessert yang satu ini.

Tak lama kemudian datanglah es krim kacang merah saya: sebuah mangkuk transparan yg pas untuk satu bola es krim vanilla, dengan taburan kacang merah dan salutan sirup kental. Kacang merahnya pas, tidak keras, juga tidak lembek. Sirup kental itu ternyata berasa seperti cairan gula jawa, yang segera mengingatkan saya pada manisnya cendol. Ini adalah penutup yang sangat pas, baik rasa maupun porsinya. Tidak terlalu manis, dan tidak membosankan.

Waktunya telah tiba bagi saya utk meninggalkan tempat ini, namun masih banyak menu yg ingin saya coba di sini. Lain kali, saya berniat mengajak teman makan, supaya makin banyak yang bisa diicipi. Mudah2an saat niat itu hampir terlaksana, sedang tidak ada yang berseru2 ke arah kita di dekat eskalator..

Prices (IDR)
Orange chicken rice bowl 18,900
Black pepper beef noodle (homemade) 23,900
Ice lemon tea 7,900
Red bean ice bowl 6,900
[Tax 10%]

Scale 1 to 5
Service: 4
Food: 3,5
Ambience: 4
Price: 3,5
Total: about 3,75

Rice Bowl Family Restaurant
Bandung Indah Plaza
Telp 022 4223308
Website: http://www.ricebowl.co.id/

P.S. Anyone who'd like to see the complete version of my Rice Bowl drawing can view it at my Back to Bandung, ... album.


ReviewReviewReviewReviewReviewFrom HellApr 3, '07 9:03 PM
for everyone
Category:Books
Genre: Comics & Graphic Novels
Author:Alan Moore - Eddie Campbell
Peringatan: resensi ini mengandung spoiler

Akhirnya terbaca habis juga buku ini oleh saya. Apa yang tadinya menghambat saya utk membaca buku ini? Format paperback-nya yg cukup tebal (dengan sendirinya ada konsekuensi ke harga) membuat saya mengundur2 membelinya. Ketika akhirnya mendapatkannya sebagai hadiah kelulusan, saya tidak bisa segera membacanya karena buku ini harus segera dipak dan dikarduskan utk dikirim ke Indonesia. Baru setelah sekitar 5 minggu perjalanannya mencapai Bandung, tibalah buku ini kembali ke tangan saya. Setelah itu, saya menghabiskan waktu berhari2 utk selesai membacanya, termasuk membaca ulang utk lebih memahami isinya.

Sebagian besar dari kita tentu pernah mendengar seorang tokoh yg dijuluki Jack the Ripper. Saya sendiri pertama kali mendengar tentangnya (dan melihat rekonstruksi perbuatannya) ketika berkunjung ke Museum Madame Tussaud di London, jauh sebelum membaca From Hell. Ngeri! Bayangan saya ketika itu, Jack the Ripper hanyalah seorang bergangguan jiwa yang menyasarkan kesadisannya pada sembarang pelacur di London pada akhir abad-19. Tidak lebih. Tapi ternyata ada hal2 yg lebih kompleks di balik semua itu: sebuah pembunuhan berseri yang terencana rapih, dilakukan dengan konsep yang rumit, dan dilaksanakan atas kehendak Penguasa Agung saat itu. Pelacur yg terbunuh adalah mereka yg benar2 terpilih; lokasi pembuangan jenazah mereka pun tidak sembarangan, melainkan diperhitungkan dengan cermat. From Hell menyajikan semua ini dengan sangat menarik; sarat detail grafis tanpa menjadi vulgar atau merendahkan nilai2 kemanusiaan.

**********************************************************
Kisah berawal dari perkenalan Albert dengan Anne Crook, seorang penjaga toko permen dan manisan, oleh Walter Sickert, seorang pelukis muda tetangga Anne. Hubungan rekat antara Albert dan Anne membuahkan seorang bayi perempuan (Alice), sehingga kemudian mereka menikah secara diam2 atas kehendak Anne. Namun Anne tidak tahu bahwa Albert sebenarnya adalah seorang pangeran, cucu dari Ratu Victoria dengan gelar Prince of Wales (pewaris kerajaan Inggris!), sehingga tentu saja mereka tidak akan mungkin hidup bersama sebagai keluarga.

Selang beberapa tahun, hal ini diketahui juga oleh Sang Ratu. Atas titahnya, Albert ditarik kembali ke dalam pingitan lingkungan kerajaan, sementara Anne dinyatakan mengalami gangguan jiwa dan dimasukkan ke asylum perempuan di Guy's Hospital. Alice yg ketika itu masih balita dibawa oleh Mary Kelly (seorang teman Anne yg berprofesi sebagai pelacur), ke Walter yang dulu memperkenalkan Albert dengan Anne. Walter kemudian menyerahkan Alice dalam pengasuhan orang tua Anne.

Berpuluh tahun sebelum kejadian ini, seorang laki2 muda bernama William Withey Gull dengan gemilang berhasil menamatkan studinya di bidang medis. Ia mengambil spesialisasi bedah, dan telah membuktikan dirinya unggul di banding rekan2nya. Prestasinya ini telah menarik perhatian sebuah perkumpulan ‘brotherhood’ Freemason yang kemudian mengangkatnya menjadi anggota. Dengan segera karirnya menanjak; ia memperoleh gelar kebangsawanan dan menjadi penasehat medis utama Sang Ratu, sehingga dengan mudah ia dapat menerima perintah2 Ratu secara langsung.

Kembali ke masa terpisahnya Albert, Anne, dan Alice. Mary Kelly, si pelacur yang sempat mengasuh Alice sepeninggalan Anne, diperlihatkan berkumpul bersama rekan2 seprofesinya: 'Big' Liz, Annie Chapman dan Polly, di bar langganan mereka. Ternyata mereka mendapat ancaman dari sebuah gerombolan (‘The Old Nichol Mob’) yg bereputasi telah menyiksa dan membunuh pelacur yang tidak menyetorkan sejumlah uang pada mereka. Dalam desakan keuangan dan ancaman maut, Mary mengusulkan jalan keluar untuk mereka berempat dengan cara memeras keluarga kerajaan melalui Walter Sickert. Ia menuliskan surat yg meminta uang sejumlah 10 Poundsterling; bila tidak dipenuhi, ia akan menyebarkan berita ttg si royal baby pada publik. Surat ini berpindah tangan dari Walter, ke ibunda Albert, dan akhirnya jatuh ke tangan Sri Ratu.

Tentu saja rahasia ttg bayi ini harus dijaga ketat demi nama baik keluarga kerajaan. Ratu Victoria segera memanggil Sir William Gull untuk menyelesaikan masalah ini dengan segera, dan dengan semestinya. Nah, di sini lah konsep pelaksanaan titah Sang Ratu mulai dimatangkan oleh Gull. Menurutnya, pembungkaman para pelacur ini tidaklah cukup dengan pembunuhan biasa, namun harus dilaksanakan sebenar2nya dengan tata cara yg dianut Freemasons. Mulailah terjadi pembunuhan - yang disertai mutilasi - terhadap Mary Kelly dan rekan2nya, satu demi satu.

Seorang inspektur polisi, Fred Abberline, ditugaskan untuk mengusut perkara segera setelah pembunuhan pertama berlangsung. Selanjutnya, pembaca dibimbing untuk mengikuti proses pengusutan Abberline yg sepertinya sia2 saja, karena bila penemuannya berjalan ke arah yg benar, pasti akan ditutup2i atau dialihkan ke hal lain oleh atasannya yg sebenarnya adalah juga anggota Freemasons. Abberline menjadi sangat frustrasi karenanya. Pembunuhan berantai ini tentu menimbulkan sensasi besar di kalangan masyarakat London masa itu. Lebih dari itu, sekelompok pembuat berita yg makin ingin menaikkan penjualannya bahkan mengirimkan surat pada polisi - seolah2 dari sang pembunuh - dengan tanda tangan "Jack the Ripper", yg mempopulerkan julukan tsb. Ternyata tidak hanya si pembuat berita yg mengirimkan surat demikian – setelah julukan tsb dikenal masyarakat luas, polisi menerima banyak lagi surat dari ‘Jack the Ripper’ yg sebenarnya dibuat oleh orang2 iseng yg senang dengan sensasi ini. Bagaimana tanggapan Gull ?
Ia mengirimkan surat juga pada polisi, disertai sepotong organ tubuh dari korban terakhirnya. Dan, karena ia tahu bahwa tidak ada lagi jalan kembali baginya, ia menanda-tangani suratnya dengan keberadaannya sekarang, “From Hell”.

Setelah pembunuhan terakhir terjadi, Robert Lees, penasehat psikis Sang Ratu (yang tidak menyukai Gull) mendatangi Abberline secara diam2 dan mengaku mendapat 'penglihatan' bahwa ia mengetahui siapa si Jack the Ripper sebenarnya. Lees kemudian menunjuk Gull sebagai si Jack sebenarnya, dan ketika Abberline bertanya langsung pada yg bersangkutan, Sir William Gull tidak membantah hal tsb. Dengan segera para Freemasons melancarkan pembungkaman Gull: mereka mendeklarasikan wafatnya Sir William Gull, lengkap dengan sebuah 'upacara penguburan’ bagi masyarakat umum. Sementara Gull sendiri diungsikan ke sebuah rumah sakit jiwa dan akhirnya meninggal di sana. Abberline dan Lees diberi dua pilihan: menutup mulut mengenai hal ini sambil mendapatkan pensiun yg besar, atau mengungkap hal ini pada publik dan mati. Mereka memilih yang pertama. Dengan demikian, hingga kini, misteri Jack the Ripper tak terpecahkan di mata publik.
**********************************************************

Apa hebatnya cerita ini? Segala komplikasi rumit dari kisah ini ditulis dengan sangat baik! Bahkan di akhir cerita terdapat appendix di mana Moore berpanjang-lebar menjelaskan peristiwa2 yg terjadi pada panel2 gambar, dilengkapi referensi faktual yg mendasari adegan2 tsb.
Latar belakang dan detail yg menggambarkan London di akhir abad ke-19 juga divisualkan dengan sangat baik. Keadaan gedung2 dan bangunan, arsitektur dan interior (rumah berbagai kalangan, rumah sakit, bar, dsb), kendaraan, busana yg dikenakan – seluruhnya memberi bayangan yang jelas akan suasana saat itu.

Moore dengan sangat lihai menampilkan keunikan plotnya. Antara lain, fenomena bahwa makin banyak pengabdian Gull menjalankan ritual Freemasonry-nya (melalui pembunuhan2 tsb), makin ia diberi kemampuan penglihatan2 ke masa depan. Ia tiba2 melongok ke dalam sebuah jendela rumah modern ketika hendak membunuh korban ketiganya, atau mendadak menemukan dirinya di tengah2 ruang perkantoran abad ke-20 ketika sedang menggarap korban terakhirnya.

Namun dari seluruh plot ini, skenario terbesar adalah ketika Gull baru mendapatkan amanat Sri Ratu untuk menghabisi para pelacur tsb. Bersama Netley, seorang kusir yg mendampingi aksi2nya, ia mengelilingi kota London dengan tujuan titik2 tertentu berdasarkan sejarah masonry dan tokoh2 yg terlibat, Gull bercerita pada Netley bagaimana kuasa dan nilai2 sakral wanita sejak jaman purba diredam dengan paksa oleh kaum pria, di mana simbol2 dan peristiwa masa lampau yg menandai pertentangan tsb dikukuhkan oleh monumen2 yang masih berdiri hingga sekarang. Di akhir perjalanan ini, Gull meminta Netley menghubungkan titik2 rute perjalanan mereka secara berurutan pada selembar peta London. Sejarah kelam tersebut ternyata membentuk sebuah pentagram yang membujur luas di permukaan London. Dalam komposisi magis inilah Gull bertekad melaksanakan ‘tugas suci’nya.
Masih banyak lagi detail yang diselipkan oleh Moore dan Campbell dalam kisah ini. Bagaimanakah akhir hidup Gull dan kemampuan2 penglihatan di akhir hayatnya? Apa yang terjadi dengan Alice? Apakah hubungan kisah ini dengan teori ‘dimensi keempat’, si ‘manusia gajah’, dan para pujangga kondang Inggris pada abad ke-19? Silakan nikmati sendiri kisah menegangkan yang tak lekang waktu ini; masih banyak kejutan2 lain dalam bukunya. Mungkin, setelah membaca kisah ini, berjalan2 di sela2 kota London tidak akan pernah sama seperti sebelumnya.


PS. Novel grafis ini telah diangkat menjadi sebuah film layar lebar dengan judul yang sama. Johnny Depp sebagai tokoh utamanya memerankan Inspektur Abberline. Info: http://www.fromhellmovie.com/


From Hell
Alan Moore, Eddie Campbell
Publisher: Top Shelf Productions; New Ed edition (February 25, 2004)
Paperback: 560 pages
ISBN-10: 0958578346
ISBN-13: 978-0958578349


ReviewReviewReviewReviewGood-Bye, Chunky RiceOct 13, '06 4:15 PM
for everyone
Category:Books
Genre: Comics & Graphic Novels
Author:Craig Thompson
Apakah arti perpisahan? Apakah arti kesepian, dan arti persahabatan? Semua pertanyaan ini mendapat berbagai jawaban dalam Good-bye Chunky Rice. Kisah dalam buku ini dituturkan dalam bentuk gambar hitam-putih dan dialog2nya dikemas dalam gaya yg sangat bermain, yang ternyata malah menunjang keseriusan tema tsb. Tokoh2 utama, Chunky Rice dan Dandel, bahkan berwujud seperti kura-kura dan tikus, sementara tokoh2 lain berbentuk manusia biasa (tokoh2 berbentuk hewan yg lain - Merle dan Stomper - benar2 'berperan' sebagai hewan).

Chunky Rice suatu hari memutuskan utk pergi meninggalkan kampungnya di tepi laut, tempat ia tinggal selama ini. Ini berarti pula bahwa ia terpaksa berpisah dengan sobat karibnya, Dandel. Diantar oleh Solomon, tetangga se-apartemen, ia berangkat ke dermaga utk menjumpai kakak Solomon, Charles, seorang kapten kapal yg akan ditumpanginya. Awak kapal Charles saat itu hanyalah Eleanor (shipmate & housekeeper), Chunky, dan sepasang kakak-beradik kembar dempet, Livonia dan Ruth. Kapal pun berangkat meninggalkan pelabuhan, menjauh dari kampung di tepi laut, menuju samudera lepas.

Sangat mengagumkan bahwa plot sederhana tersebut ternyata mampu menampilkan banyak kejadian yang menguras emosi. Masing2 tokoh di sini memiliki seorang lain yang ia kasihi, dan (hampir) tak dapat terpisahkan. Solomon punya Merle, seekor burung yg ia piara sejak sayapnya rusak, yang disayanginya seperti ia menyayangi Stomper, anjing betina piaraannya semasa kecil. Livonia dan Ruth, si kembar dempet, tentu saja saling memiliki: menurut dokter yg menangani kelahiran mereka, terlalu banyak organ vital yg mereka pakai bersama, sehingga pemisahan secara fisik dapat mengakibatkan kematian keduanya. Charles memiliki kapal yg dibuatnya sendiri, dan tak terpisahkan dengan laut. Namun di balik ketangguhannya sebagai kapten kapal, Charles sebenarnya memiliki rasa kehilangan yg sangat mendalam terhadap Glenda, mendiang istrinya. Hubungan Chunky dan Dandel pun terlihat sangat lekat. Namun bagaimana ketika mereka akhirnya terpaksa juga menghadapi perpisahan?

Sejak ditinggal Chunky, Dandel setiap hari pergi ke pesisir pantai utk menatap lautan luas yg membawa pergi Chunky. Ia selalu melemparkan botol berisi surat (berupa goresan krayon warna-warni, tanpa kata2) ke arah laut, hari demi hari. Ketika terpisah dari Merle, ekspresi kesedihan Solomon (yg masih merasa bersalah atas nasib Stomper dan anak2nya) nyaris membawa mautnya. Perpisahan dapat berakibat fatal, bagaikan yg dapat terjadi pada ikan bila dipisahkan dari air. Perumpamaan tersebut digambarkan dengan sangat indah oleh Thompson menjelang berakhirnya kisah ini.

Thompson memang mampu dengan lihai menggunakan gambar utk bermain dengan waktu. Ambil contoh ketika Solomon mengambil gerobak kecil utk mengangkut barang2nya ke kapal: Chunky harus menunggu sebentar di beranda rumah. Halaman berikut menampilkan pemandangan yg dilihat Chunky: dalam keadaan berurutan, namun bagian2nya tetap bersambungan dalam bingkai utama. Atau ketika pertama kalinya Chunky berjumpa dengan si kembar dempet Livonia dan Ruth di atas kapal. Si kembar mengamati Chunky dengan intensitas yang sama dengan pengamatan Chunky pada kondisi istimewa mereka, bagian demi bagian tubuh. Banyaknya variasi permainan waktu ini membuat saya betah lagi-lagi membolak balik halaman2 buku ini. Teks dan gambar saling mendukung dengan kompak, yang satu menunjang yang lain dengan susunan yang nikmat ditelusuri. Mungkin juga kisah ini adalah refleksi emosi Thompson sendiri yg kala itu baru mengalami perpindahan tempat dan perpisahan, namun justru di situ lah letak kekuatan buku ini: sederhana, namun dapat bermakna mendalam, karena keluar dari hati pembuatnya.

(gambar2 lain akan menyusul)

Good-Bye, Chunky Rice
(c) Craig Thompson, 2006
Pantheon Books
ISBN: 0375714766


ReviewReviewReviewReviewReview[webcomic] Gunnerkrigg Court by Tom SiddellAug 21, '06 7:06 AM
for everyone
Category:Other
I was first aware of this webcomic when it was mentioned by Neil Gaiman in his journal. I was rightaway fascinated, but had no time to explore the site thoroughly. I came accross it again when it was nominated for the Clickie Awards at Stripdagen Haarlem 2006, an event where I wasn't paying attention that it's Tom Siddell who went up the stage and - being the only nominated webcomic creator attending - received the award for the winner (photos from that event can be viewed here). I have also announced the URL of this webcomic to my contacts here, but only recently (finally!) found the time to sit and read the whole sequel.

The main character is Antimony, a girl who just entered Gunnerkrigg Court boarding school. Antimony has this cool, composed face (which will have more expressions in the later chapters), and nothing can really surprise her. She's always calm and is very polite to everyone. She befriended Kat, a genius classmate whose parents are science teachers at Gunnerkrigg Court and therefore (sort of) knows her way through Gunnerkrigg estate. Gunnerkrigg itself looks more like an abandoned giant factory in an industrial area than a boarding school, separated only by a very long bridge from a gloomy forest.

Photobucket - Video and Image Hosting

Since day one, Antimony has been faced with a strange event: a second shadow tagged her along. This first episode tells how Annie (Antimony's nickname) helped the shadow pursue its desire by using a self-assembled robot. The second chapter is about how Annie and Kat fulfilled their mythology class assignment with a surprising appearance of Basil, a misunderstood minotaur. Chapter 3 introduced Reynardine, who got wounded and fell on the roof right on top of Annie's bed. Annie's teacher Mr. Eglamore was also involved in this occurence. More about Reynardine in the later chapter; it didn't end here. The fourth episode is about a science fair, presenting two strange girls from another tower. One is always snarky, another very timid and quiet (I got a feeling that the snarky girl isn't a real person -- anything is possible at Gunnerkrigg Court!). The next episode has a unique setting; instead the usuall darkness, the panels are showered with lights and bright colors. This part expresses Annie's loss and her longing for her parents. Chapter Seven reveals the story of Annie's parents, told by Kat's parents and Mr. Eglamore. This episode also brings back the earlier characters: Reynardine, the shadow and the robot from the first chapter, who caused Annie to fall off the bridge outside Gunnerkrigg. The last chapter presents Annie's findings at the bottom of the cliff (she survived, thanks to Tic Toc birds). The story doesn't end here; there are more characters being introduced and most probably intertwined with stories of the past that we're not told yet.

I was fascinated all over again. The graphic is fresh, the atmosphere a bit dark yet somehow sweet. The story is interesting, especially for those who adore myths, mystery and fantasy, with bits of humor in the details - and it is presented in a way that I like: in short chapters. Not to mention that there is a bonus page at the end of each chapter, which tastes like a refreshing condiment. There is already a printed version of this series available (self-published) but, unfortunately, the European edition is said to be inferior and therefore is not recommended. Five stars for Gunnerkrigg Court, which is perhaps the only webcomic that I have enjoyed immensely!

The webcomic starts here, feel free to go there and read it yourself: http://www.gunnerkrigg.com


ReviewReviewReviewReviewPompadour Lunchroom & ChocolaterieJul 30, '06 5:27 AM
for everyone
Category:Restaurants
Cuisine: European
Location:Kerkstraat 148, Amsterdam
Tiba-tiba gerimis turun di siang hari terik itu. Saya, Dhanu (anak saya, berumur 5 th) dan Chica (sepupu saya) baru saja keluar dari Lambiek, toko dan galeri komik andalan saya yg terletak di Kerkstraat. Berhubung telah berhari2 cuaca panas terus, ditambah teriknya sinar matahari di siang bolong, kami sama sekali tidak siap menempuh hujan: masing2 hanya mengenakan kaus lengan pendek, celana pendek dan sandal, tanpa membawa payung atau jas hujan. Rintikan gerimis makin menebal ketika kami mendekati persimpangan antara Kerkstraat dan Spiegelstraat (dari mana dapat terlihat Rijksmuseum yg dari sini jaraknya hanya sekitar 5 menit berjalan kaki). Kami memutuskan untuk berteduh sebentar di tempat yg sebenarnya sudah agak lama saya incar: Pompadour Lunchroom & Chocolaterie, yg terletak hampir di pojokan persimpangan Kerkstraat - Spiegelstraat tsb.

Dari luar, orang yang lewat sekilas hanya dapat melihat dengan jelas etalase Pompadour yg menampilkan berjejer2 coklat mungil (bonbons) yg cantik dan menggoda. Selebihnya, nampak samar ruangan memanjang ke belakang dengan interior bergaya simple, modern namun hangat. Ternyata benar saja, ketika kami memasuki ruangan, suasanya nyaman segera terasa. Di sisi kanan terdapat meja display (vitrine) memanjang, berisi berbagai macam bonbons, kue2 kering (both sweet & savory). Terdapat 2-3 anak tangga menuju ruang belakang yg lebih luas, dan dalam vitrine di jajaran yg lebih tinggi ini terhidang potongan berbagai macam kue2 (cakes & quiches). Di ruang belakang ini terdapat beberapa meja dan bangku bermodel sederhana, bersih dan ramah. Saat itu sudah lewat pk. 14:00, hanya ada sepasang pelanggan yg sedang menghabiskan makan siang mereka. Ruang makan mungil tsb, yg sepertinya hanya dapat memuat sekitar 30 orang, diakhiri dengan sebuah dapur kecil (service area) yg hanya dibatasi oleh dinding rendah. Dari tempat kami duduk (di meja yg paling dekat dengan anak2 tangga), dapat terlihat set wastafel, pemanas air, dll - dan tentu saja para staf Pompadour yg sibuk hilir-mudik melayani tamu.

Sayang waktu itu kami tidak terlalu lapar, tapi niat saya singgah memang adalah sebagai 'preliminary visit' - melihat medan dulu sebelum menyerbu, di lain kali.. hehe.. 'Tea of the day' hari itu adalah fresh mint tea, jadi kami pesan 1 poci utk diminum berdua (Dhanu, seperti biasanya di mana2, sudah bahagia bila dipesankan jus apel). Berbagai cake di dalam vitrine sungguh sangat menggoda. Saya serahkan pemilihan cake utk dimakan bersama2 pada Chica, sebab bagi saya toh mudah bila mau kembali di lain kali utk mengicipi jenis cake yg lain.
Pilihan jatuh pada caramel-chocolate cake, yang disajikan tak lama setelah poci teh kami tiba: poci teh porselain berwarna putih polos, berisi air yg baru mendidih dan seikat tebal daun mint segar. Pilihan cake tsb tidak salah: meskipun utk dimakan bertiga, potongannya cukup besar dan tiap sendoknya sangat mantap dan kaya rasa, sehingga cocok utk dinikmati perlahan-lahan. Lapisan teratas adalah lapisan tipis karamel kental, di bawahnya lapisan 'creamy' namun padat-lembut dengan rasa karamel yg membidangi separuh irisan cake. Separuh lagi, di bawahnya, juga creamy-padat dengan rasa coklat yang tak kalah lembut. Pas sekali: tidak terlalu manis, namun dengan aroma coklat yg kuat menantang. Di dasar cake terdapat selapis tipis base lembut namun cukup padat. Sehingga ketika garpu ditekankan miring pada kue, lapisan2 teratas terlalui dengan mudah, lalu diakhiri hanya dengan sedikit tekanan tegas utk memotong irisan yg hendak dilahapkan ke mulut. Sisi 'belakang' cake ramai dengan lempengan2 coklat yg dipatahkan tidak teratur, namun ketidak-beraturan ini malah menyeimbangkan penampilan bagian 'depan' cake yg sangat rapih dan polos.

Sambil mengobrol menghabiskan waktu menunggu hujan reda, kami pelan2 menghabiskan cake tsb. seraya mengamati sekeliling ruangan. Satu keluarga datang bersama anak2 balita mereka, yg salah satunya kemudian merangkak bebas di lantai ruang makan. Sepasang kekasih memilih sofa di pojok ruangan utk ketenangan berdua. Sepasang turis sibuk memilih2 hidangan dari vitrine, hingga akhirnya memutuskan utk memesan sepotong quiche dan seporsi salad. Seorang ayah dan anak laki2nya, yang sambil berjalan menuju pintu keluar mengutarakan pujiannya, "Tempat ini nyaman sekali ya, Pap! Kuenya enak, aku mau kembali lagi!"

Ucapan anak itu telah merangkum isi resensi saya ini. Secara keseluruhan, kami puas akan kualitas tempat ini. Harga sepotong cake memang agak mahal (sekitar 4,50 Euro), tapi sangat pantas utk kualitasnya. Sementara ini saya beri Pompadour 4 bintang berdasarkan pengalaman yg sekali ini; kita lihat nanti apakah bintang ini akan berkurang atau bertambah setelah mengicipi hidangan2 lain di kunjungan2 berikutnya :)

Pompadour Lunchroom & Chocolaterie
Kerkstraat 148
1017 GR Amsterdam
http://www.patisseriepompadour.com/
open: Monday - Saturday 10:00 - 16:00

Foto diambil dari community.iexplore.com
Ada foto2 choco-caramel cake dan fresh mint tea di http://chicaluna.multiply.com/photos/album/139
Resensi ini di-post juga di Milis Jalansutra, Msg #50907


[tambahan]
Pompadour Lunchroom & Chocolaterie di Kerkstraat ini ternyata adalah cabang (baru dibuka th 2004) dari Pompadour Chocolaterie, Patisserie & Tearoom di Huidenstraat 12, Amsterdam, yg telah berdiri sejak th 1963.
Cuplikan dari situs expatica.com:
===========================================
Pompadour sells 48 different bonbons and a selection of fine cakes and candied fruits - everything is home made on site and special orders usually take a few days notice. [...] Pompadour only uses Valrhona Swiss chocolate, which is "the best chocolate available in Europe and the beans are from Madagascar and the Caribbean," said Esco Gabriels, co-owner, who is off to Madagascar in the spring to inspect the vanilla bean plantation.
[...]
Bonbons are EUR 1.15 in the tearoom and are sold by weight to take away. It's perfectly acceptable to buy one or two pieces. Most bonbons cost less than one euro each - 8 pieces wrapped cost EUR 7. Whole cakes, on average, range from EUR 8-25.

===========================================


ReviewReviewReviewDe:TALESJul 28, '06 12:48 PM
for everyone
Category:Books
Genre: Comics & Graphic Novels
Author:Fábio Moon & Gabriel Bá
Pertama kali saya menikmati karya sepasang pemuda kembar ini adalah kontribusi mereka dalam album AutobioGraphix, yg merupakan kumpulan cerita2 pendek yg mengisahkan sepenggal kisah hidup dari para pembuatnya (antara lain, Frank Miller, Will Eisner, Sergio Aragones, Stan Sakai). Di AutobioGraphix, Fábio Moon dan Gabriel Bá menampilkan gambar hitam-putih yang cukup mendetail dan dengan tepat menggambarkan suasana stasiun dan kereta bawah tanah kota Paris.
Ketika saya temukan De:TALES - Stories from Urban Brazil, setelah melihat sekilas isinya, saya beli utk hadiah ulang tahun suami yg memang senang membaca kisah2 manusia di lingkungan urban (baik berbentuk novel, ilmu pengetahuan populer, maupun cergam) - tentunya dengan niat ikutan baca setelahnya.. haha..

Saya tidak tahu apakah kisah2 dalam De:TALES ini disusun secara kronologis, namun sangat terasa bahwa, baik kisah maupun grafis, makin ke belakang terlihat makin matang garapannya. Dua-tiga cerita pertama (El Camino/The Path, Estrela/The Star, Outdated) terlalu vague, cenderung mushy (apa ya.. terlalu "mendayu2"?). Seputar mimpi dan kencan (gadis di kisah kedua, yg adalah komik bisu, mirip Amelie!). Tapi cerita2 berikut lumayan menarik.
Late for coffee menyajikan percakapan menarik, dengan bbrp permainan angle yg sesuai dengan pace cerita.
As if, Reflections I dan Reflections II mengisahkan dua versi skenario utk setting yg sama, si tokoh (seolah2?) bercakap2 dengan dirinya sendiri.
All you need is love, kisah ringkas yg ditampilkan dengan detail2 menarik. Hampir tak ada percakapan, hanya sedikit narasi.
Qu'est-ce que c'est?/What is it? merupakan cerita pendek yg dimuat dalam AutobioGraphix, cuplikan kejadian ketika si kembar ini bersekolah seni di Paris. Menurut saya, ini merupakan salah satu karya yg terbaik dalam album De:TALES ini.
Happy birthday, my friend! menghidupkan kembali seorang teman dalam rangka perayaan ulang tahunnya.
Saturday mengetengahkan keseharian seorang seniman (ini pasti si Gabriel Bá sendiri), ketika dikejar tenggat waktu di akhir pekan.
Outras Palavras/Other Words, cerita terakhir, berkesan mirip kisah kedua di awal album: disajikan tanpa kata-kata, dengan kadar cerita yg juga mendayu2.

Tadinya, mengacu dari sesama tema urban oleh Eisner dengan kisah2 tenements-nya, saya kira cerita2 urban Brazil ini bakal mirip. Ternyata kisah2 yg diangkat sangat berbeda. Karya si kembar Fábio dan Gabriel ini lebih ke suasana percintaan, pertemanan, dan romantisme masa muda.
Karya yang digarap berbarengan ini memiliki gaya yang sedikit berganti-ganti, namun tetap pada 'pakem'nya. Kekuatan dimensi hitam-putih yang ditampilkan terkadang mengingatkan pada karya Eduardo Rizzo untuk 100 Bullets (karya2 terbaru mereka bahkan ada yg mirip tarikan garis dan blocking bayangan khas Mike Mignola). Sebuah album yg menarik; untuk Fábio Moon dan Gabriel Bá: tiga setengah bintang, dengan harapan memberikan lebih banyak bintang utk karya2 mereka selanjutnya!

De:TALES
Stories from Urban Brazil

(c) 2006 Fábio Moon & Gabriel Bá
Dark Horse
ISBN: 1593074859


Resensi ini juga di-post di milis Komik Alternatif, msg #2869, dengan tambahan sbb:
----------------------------------------------------------------------------
Menurut kata pengantar buku ini (yg ditulis oleh Diana Schutz, editor Dark Horse), si kembar ini memang cukup gigih dalam memperjuangkan karya2 mereka utk diterbitkan. Penolakan demi penolakan telah mereka alami, tapi mereka tetap berusaha, sambil terus mengembangkan kemampuan mereka. Hingga akhirnya penerbit melihat bahwa karya mereka telah menjadi cukup matang dan layak utk diterbitkan.
Hanya saja, di awal kata pengantar, Schutz menekankan betapa uniknya sepasang pemuda kembar yg tetap kompak dan bahkan menghasilkan karya bersama. Tempo hari saya sempat menunjukkan bagian kata pengantar tsb ke Peter van Dongen, yg juga punya saudara kembar laki2, Robbie. Meskipun sudah memilih jurusan hukum dan menjadi pengacara, Robbie masih dapat (dan masih suka) menggambar. Bayangkan bila mereka iseng2 membuat kolaborasi cerita pendek, pasti ada unsur "unik" tambahan! :)


ReviewReviewReviewReviewNam TinJul 23, '06 6:40 PM
for everyone
Category:Restaurants
Cuisine: Chinese
Location:Amsterdam
Meskipun sudah sejak dulu dan berkali2 direkomendasikan teman2 asal Taiwan utk makan dim sum di Nam Tin, baru hari Minggu siang ini saya berkesempatan makan dim sum 'dengan serius' di sini. Saya pergi bersama suami dan dua anak kecil, ibu, sepupu (Chica) dan anaknya (Luna). Saat kami tiba, menjelang pukul satu siang, suasana di dalam restoran sudah cukup ramai. Maklum, dim sum yg hanya dihidangkan hingga pk. 17:00 ini memang cukup kondang.

Interior restoran ini sangat luas, dan mampu menampung hingga 500 orang. Meja2 beralaskan taplak merah muda lembut dan lapisan kertas putih tipis tersebar di seluruh penjuru ruang, masing2 dikelilingi bangku2 kayu berlapis bantalan dengan rmotif ramai. Di beberapa sudut ruang terdapat televisi berlayar lebar, yang kadang2 berfungsi sebagai sudut utk berkaraoke. Suasana di dalam cukup nyaman karena ber-AC (mengingat di luar cukup kering dan panas, lebih dari 30C), dan - yang penting bagi kami - restoran ini cukup children friendly. Fasilitas lain pun memadai: terdapat akses utk pengguna kursi roda, dan kamar kecilnya cukup luas dan bersih.

Pelayan yang berjumlah belasan orang terlihat sibuk mondar-mandir di sekujur ruangan. Tidak ada pengkhususan satu pelayan utk satu meja, jadi kami dapat memanggil siapapun yg terdekat atau yg kebetulan sedang melihat ke arah kami. Perlakuan satu pelayan berbeda dengan yg lain, sehingga penilaian terhadap pelayanan tidak dapat dipukul rata - namun mereka rata2 cukup membantu dengan sigap dan tidak ada pengantaran pesanan yg salah, meskipun restoran terlihat cukup penuh.

Di jam2 khusus dim sum ini, terdapat secarik kertas kecil di masing2 meja, berisi daftar menu yg bisa langsung kita tulis jumlah porsinya di samping masing2 nama hidangan. Siang itu kami memesan:
- Rijstflensjes met garnalen (Cheong Fan udang)
- Rijstflensjes eendfilet (Cheong Fan bebek)
- Gebaken octopus (cumi goreng tepung)
- Gevulde aubergines (terong isi ikan)
- Cantonese gebakken rijst (Nasi goreng Yangchow: isi udang, tsa siew, telur dan kacang polong)
- Nasi goreng polos
- Rijstpap kipfilet en mais (bubur ayam & jagung)
- Ha Kau - garnaal pasteitjes (dim sum udang kukus)
- Garnaal gehakt balletjes (baso udang cincang kukus)
- Calamaris in pikante saus (cumi saus pedas)
- Vegetarische bapao (roti mantau polos saus manis)
- Krokante garnaal pasteitjes (pastel udang goreng saus mayonais)
- Garnaal loempiatjes (lumpia udang goreng)
- Pangsit Goreng
- Garnaal Toastjes met sesam (toast ber-topping udang cincang + wijen)

Setelah didaftar begini, ternyata banyak juga pesanannya, maklum lapar mata (sengaja datang ketika lapar :D). Tapi ternyata (hampir) semua pesanan dapat dihabiskan, dengan terpaksa membawa pulang sisa nasi goreng polos dan (pesanan tambahan) cumi goreng tepung. Semua hidangan rasanya pas; udang dan daging bebek pada cheong fan serasa empuk dan manis. keseimbangan antara kenyal dan crispy pada cumi goreng tepung sangat pas (dan segera menjadi favorit anak2). Terong isi daging ikan cincang lumayan unik dan segar. Udang pada seluruh hidangan muncul sebagai mana mestinya: menantang di setiap gigitan, manis di setiap kecapan. Yang tidak terlalu istimewa mungkin hanyalah cumi saus pedas, yg sebenarnya tidak terlalu pedas (satu2nya porsi yg tersisa, sebanyak 2-3 potong).
'Teman' makan dim sum, nasi goreng, sebenarnya juga bisa tampil sebagai hidangan sendiri. Rasanya mantap sekali. Juga bubur ayamnya, yg berisi potongan2 tipis-lebar daging ayam dan butiran2 jagung, sangat kuat menampilkan rasa kaldu ayam, dengan sedikit hint jahe segar.

Selesai makan, kami memesan es krim untuk anak2: masing2 mendapat es krim vanilla dalam cangkir plastik berbentuk kepala hewan (yg boleh dibawa pulang), dan triple sorbet utk ibu. Sisanya memesan kopi biasa dan koffieverkeerd (= kopi-susu). Seluruh hidangan tersebut, plus minuman (2 gelas bir, 3 gelas jus apel dan 2 poci Chinese tea) - dan membuat kenyang 4 orang dewasa + 3 anak kecil - menghabiskan sekitar 100 Euro. Sebuah harga yg sangat pantas utk makan enak dan santai di hari Minggu siang bersama keluarga. Restoran ini bisa saya rekomendasikan utk makan siang dim sum-nya (apalagi karena masih banyak hidangan dim sum yg belum sempat dicoba :)), dan mungkin masih harus dijajal pula hidangan2 selain dim sum.


Nam Tin
Jodenbreestraat 11
1011 NG Amsterdam
Tel (020) 428 85 08 / Fax (020) 428 85 07
kitchen open 12.00-23.30 (sunday until 22.00)
dim sum 12.00-17.00


Foto: terong isi daging ikan (by Chica)
Foto2 lain ada di http://chicaluna.multiply.com/photos/album/134

Menu dim sum di Nam Tin:
Photobucket - Video and Image Hosting
Photobucket - Video and Image Hosting


ReviewReviewReviewParcifal nr.2Jun 30, '06 5:12 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Comics & Graphic Novels
Author:various artists from BE & NL
Setelah ditunggu2, ternyata benar Parcifal edisi kedua muncul bulan April lalu, tepat 3 bulan setelah edisi pertama diluncurkan. Parcifal adalah majalah komik 4x/tahun, keluaran Belgia, yg digarap beramai2 oleh komikus Belgia (dan 1 grup komikus Belanda), berformat A5, full color, dengan tebal sekitar 95 halaman. Hal yg serupa dari edisi pertama dan kedua ini adalah bagian editorialnya yg berbentuk foto-komik - atau susunan foto dari para anggota redaksi dan komikus, dalam tema tertentu, yg dilengkapi dengan balon kata2 sehingga membentuk 'kata pengantar'. Namun selain itu, kedua edisi tsb sama sekali berbeda dalam isinya.
Bila di edisi pertama ditampilkan berbagai cerita berbeda dari masing2 komikus, di edisi kedua ini terdapat satu alur cerita yang masing2 'bab'nya digambar oleh 17 komikus. Dari awal hingga akhir, tema cerita adalah sebuah warung kentang goreng ('friets kiosk', yg sebenarnya juga menjual kroket, kipcorn, dan gorengan2 khas lainnya), dengan tokoh2 utama Vivo (si pemilik warung), Mariette (istrinya) dan si pemabuk Sjarel (pelanggan tetap).

Photobucket - Video and Image Hosting
Sepotong dari halaman editorial, menjelaskan bahwa supaya para komikus yg sedang dikumpulkan dalam satu pondok itu tidak bertingkah macam2: masing2 memperoleh satu bab dan tak seorang pun boleh meninggalkan tempat hingga bagiannya selesai

Di awal cerita, dengan gambar hitam/putih dan teknik pena tipis dan rapih, Vivo kedatangan seorang pelanggan yg menawarkan utk memajukan usahanya. Kisah berlanjut dengan teknik gambar berbeda (sebab yg menggarap adalah komikus lain), masih dominasi hitam/putih namun garisnya lebih tebal dan kasar, menceritakan seorang ayah yg menitipkan tiga anak2nya pada Vivo, berhubung Vivo (dalam rangka ekspansi usahanya) kini menawarkan jasa 'pesta anak2'. Cerita berikut digambar berwarna, mirip krayon, mengisahkan anak2 tsb bermain dalam warung Vivo. Dan selanjutnya, cerita berjalan makin bervariasi (misalkan, latar belakang Sjarel yg dulunya ternyata seorang petinju tangguh, kedatangan anak laki2 Vivo dan Mariette dengan seorang health inspector) dan makin liar (misalkan, terlibatnya makhluk luar angkasa, setting panggung broadway, adegan kung fu dengan kura-kura ninja), dengan teknik grafis yg berbeda-beda (dari garis2 dua dimensi sederhana, bergaya 'film bisu' - panel2 gambar yg diselingi panel kalimat putih di atas latar hitam - hingga frame berisi gambar2 detail, dan gaya hippie - yg memang adalah satir dari animasi Yellow Submarine). Cerita diakhiri menjelang jam tutupnya warung Vivo - yang ternyata bukan berarti berakhirnya masalah Vivo: sebaliknya, seorang tokoh dari Parcifal 1 (yg kisahnya berlanjut di Parcifal 2 setelah kisah Vivo tamat) adalah pelanggan yg muncul di babak terakhir ini, dengan membawa para pengikutnya.

Photobucket - Video and Image Hosting
Bab ttg kelakuan anak2 yg dititipkan pada Vivo

Satu komik dengan berbagai gaya gambar, namun kisahnya berkesinambungan dengan baik, ternyata enak juga dinikmati. Tidak hanya terasa efek hiburannya, tapi juga asik untuk dibaca (sebab, ceritanya memang benar kocak dan kacau!), dan menarik utk diamati (dalam hal kreativitas dan teknik gambar masing2 komikus).
Hanya saja, tentu tidak semua gaya pas dengan selera pembaca. Saya sendiri terpaksa meloncati beberapa cerita yg sulit dibaca (secara visual maupun verbal), dan kembali ke bagian2 tsb setelah semuanya selesai dibaca. Cara ini ternyata tidak terlalu mengganggu jalannya cerita, sebab di antara bagian2 tsb terdapat satu 'halaman penyambung' yg menjembatani antara kisah sebelumnya dengan kisah (dan gaya gambar) selanjutnya. Yah, anggap saja sebagai latihan mengapresiasi beragam gaya bertutur secara visual.

Photobucket - Video and Image Hosting
Salah satu bab, karya Lamelos, sebuah kelompok komikus Belanda

Sebagai majalah komik yg diterbitkan sendiri, yg mungkin salah satu tujuannya adalah bereksperimental dengan berbagai cara penyajian cerita bergambar, Parcifal ini lumayan bagus sebagai bahan perbandingan dengan komik2 'swadaya' lain. Format dan mutunya cukup 'ramah pembaca', meskipun harganya agak mahal (4 Euro), tapi rasanya memadai utk kualitas kertas, cetak dan jilid semacam ini.


Photobucket - Video and Image Hosting
Sampul belakang Parcifal 2: daftar menu warung kentang goreng


Parcifal jaargang 1, nummer 2
april 2006
www.parcifal.be


ReviewReviewReviewReviewA.L.I.E.E.E.N.Jun 29, '06 5:48 PM
for everyone
Category:Books
Genre: Comics & Graphic Novels
Author:Lewis Trondheim
Lewis Trondheim mengawali bukunya ini dengan pengantar yg menceritakan bahwa, suatu hari ketika berpiknik bersama keluarganya, ia menemukan sebuah buku bergambar yg aneh, yg tertinggal di sebuah tempat. Ia hampir mencela para pelancong yg ceroboh meninggalkan sampah tersebut, sampai akhirnya menyadari bahwa rumput di sekitar situ yg rebah dan kering ternyata membentuk lingkaran2 beraturan. Apakah buku yg ia temukan itu milik para 'pelancong' dari angkasa? Apakah anak2 luar angkasa itu diperbolehkan membaca buku2 semacam ini? Ia bawa buku tersebut ke sebuah penerbit, yg lalu memperbanyak buku tsb, dan kini berada di tangan pembaca.

Buku ini bukannya total tanpa kata-kata, sebab ada sedikit balon kata2 di dalamnya. Namun aksaranya jelas2 bukan roman alphabet, dan bukan apa pun yg umum kita kenal di bumi (belakangan, forum penggemar karya2 Trondheim diketahui tengah menggarap kode pemecah aksara aneh pada buku ini). Buku ini diterbitkan penuh warna, hanya saja warna2 tidak tercetak tajam seperti yg umum kita lihat pada buku2 sekarang, tapi cenderung buram dan seperti bertekstur bintik2, bagai cetakan pada koran lawas. Bukan hanya itu, beberapa warna bagai tampak luntur di berbagai tempat; bahkan bidangnya terlihat tidak sinkron dengan bidang atau outline gambar.

Terdapat beberapa bab pada buku ini, masing2 ditandai dengan penggambaran si tokoh utama pada halaman pembukanya. Sepertinya kisah pada masing2 bab pada buku ini berbeda2, namun sebenarnya saling berkaitan. Makhluk yang satu pasti - pada suatu titik - sempat berinteraksi dengan yang lain, sehingga membentuk jalan cerita pada bab masing2. Makhluk2 ini hampir semuanya berbentuk oval atau bulat-lucu, dengan format mata, daun telinga, mulut, dll, yg berbeda2 menurut spesies masing2. Namun jangan dikira cerita dalam buku ini berjalan imut-imut saja, selucu bentuk makhluk2 itu. Sebaliknya, beberapa adegan bisa membuat merinding saking ibanya, atau mengerenyitkan kening karena miris.

Photobucket - Video and Image Hosting
Photobucket - Video and Image Hosting

Seorang (seekor?) makhluk mungil yang riang terjebak dalam situasi di mana ia terpaksa menyakiti rekan sejenisnya, untuk menyelamatkan nyawanya sendiri. Dan ketika ia mencoba menyelamatkan nyawa rekan yg disakitinya ini, ternyata malah sebaliknya yg terjadi. Makhluk lain lagi, tiba2 kehilangan matanya gara2 tertusuk dahan2 sebuah pohon. Setelah berdarah2 dan dirawat oleh seekor (seorang?) 'dokter', ia tidak menderita lagi, namun mengalami efek sampingan: terus menerus mengeluarkan substansi kental dari tubuhnya. Ada lagi makhluk yang sebenarnya ingin selalu berbuat baik, namun selalu disalah-sangka oleh makhluk2 lain yg ia tawarkan kebaikannya. Sehingga yg dirasakan - sebagai balasan dari niat baiknya - hanyalah penolakan.

Tragis rasanya melihat si makhluk baik akhirnya berputus-asa, miris rasanya melihat darah merah makhluk lucu yg disakiti rekannya sendiri, merinding juga ketika hantu si makhluk malang ini mengejar si penyiksanya, dan kesal ketika terjadi penipuan oleh makhluk yg nakal.. tapi sempat pula tertawa ketika si 'dokter' memeriksa dari dalam tubuh pasien, senang rasanya melihat interaksi manis antara makhluk2 tsb, dan turut bersemangat ketika si makhluk mungil memutuskan utk berbalik melawan para makhluk penyiksa kaumnya. Ajaib rasanya, bagaimana gambar2 sederhana - tanpa kata2 - dapat mempermainkan perasaan demikian serunya. Bahkan, bila mau direnungkan lebih dalam lagi, siapa tahu pembaca dapat menemukan personifikasi dirinya - sebagian atau seluruhnya - pada makhluk2 antah berantah ini. Applause dan empat bintang buat A.L.I.E.E.E.N. dan Lewis Trondheim, sang ahli komik (nyaris) bisu!

Photobucket - Video and Image Hosting

A.L.I.E.E.E.N.
Archives of Lost Issues and Earthly Editions of Extraterrestrial Novelties
(c) 2006 by Lewis Trondheim
First Second Book, NY
96 pages Full Color
ISBN: 1-59643-095-8


ReviewReviewReviewReviewThe Nasty BitsJun 11, '06 6:29 PM
for everyone
Category:Books
Genre: Cooking, Food & Wine
Author:Anthony Bourdain
I've never watched any of his TV shows (save a glimpse of an interview clip on the Internet), nor read any of his books other than Confidential Kitchen. My impressons after reading Confidential Kitchen? An interesting read, no-nonsense contents, very bold and with a choice of spicy expressions. Needles to say, his writing loudly describes his personality; a typical "Bourdain" style. Having enjoyed reading that book, I eagerly took The Nasty Bits off its shelf at Waterstone's not so long ago and rightaway devoured the pages.

The Nasty Bits contains a collection of articles and essays by Bourdain, which were published in various publications. The contents, divided into Salty, Sweet, Sour, Bitter and Umami, are a variation of stories and thoughts, ranging from the kinds of music in the kitchen to restaurant etiquette, from a pampered lifestyle on a luxury ship to the harsh environment of an Inuit tribe, from a delicate US$ 350,-/head sushi dinner and an exclusive food-lab to daring experiences of eating virtually any part of any breathing creature. The collection is followed by a short fiction: A Chef's Christmas, which (I quote from Bourdain himself) is exactly "...a children's Christmas fable - but with language that children probably shouldn't read". The book ends with a Commentary section, where Bourdain made remarks about each article.

Having joined Jalansutra mailing list for a couple of years, I admit, have increased my consciousness towards food and travel, more than ever. But it still does not make me an expert. I have yet to learn many gastronomical terms that Bourdain threw into his writing. However, aside from occassional unfamiliarities of terms, particular points and the overall story are comprehensible. Mainly because this book covers beyond food business: it explores people's passion towards food (something that I share with most of my friends)! I like it how Bourdain tirelessly express and proves, in many ways, that good food doesn't always come with night gowns, hushed atmosphere and silver cutlery, but sincere affection, pleasant (can be either relaxing or lively) surroundings and good companions.

I like it also how Bourdain gives graphic descriptions of his adventures, with brutal honesty. He doesn't hesitate to mention and comment on well-known names (given his expertise, I can see he's entitled to do so). And, being seemingly straight-forward in all aspects as he is, in the commentary section he admits a change of viewpoints. Well, I can imagine it's just like myself looking at my own works from years ago - I must be embarrassed or proud by some - but it's all a process towards maturity, isn't it. Best of all, I find myself very much amused by the harshness of his jokes and the liveliness of his stories. I recommend this book as an entertaining reading material (although not for those who are easily offended by obscene words), a mind-opener, but not as a food guide (I just exchanged words with a friend, "Well, we don't have to eat up to Bourdain's standards" :D).


Nasty Bits
Anthony Bourdain
ISBN13: 9780747579816
ISBN10: 0747579814
Publication Date: 01/05/2006
Format: Paperback
Publisher: BLOOMSBURY PUBLISHING


Pages:123
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help