Ketika ada posting di milis tentang terbitnya
SPARX, saya sedang sibuk2nya menyembuhkan diri di RS Borromeus. Tentu saja saya penasaran untuk mendapatkan majalah cergam ini. Mengingat waktu dan mobilitas yg sangat terbatas, saya hampir pesimis bisa membelinya tanpa harus pergi ke toko2 buku besar. Tapi rasa pesimis itu ternyata tidak perlu, sebab – suatu hari ketika sedang kontrol di Borromeus – mata saya tertumbuk ke sebuah majalah berjudul SPARX yg terselip di antara berbagai majalah dan tabloid, di kios2 koran emperan! Ternyata nggak perlu jauh2 ke toko buku! (Belakangan saya jadi memperhatikan kios2 sejenis di emper2 supermarket dan pasar, memang gampang menemukan SPARX di tempat2 itu).
OK, karena setelah (dinyatakan) sembuh saya langsung keluar kota selama beberapa hari, SPARX yg sudah saya beli baru terbaca beberapa hari belakangan ini. Formatnya ramah (sedikit lebih besar dari A5, mudah dibawa2, dimasukkan tas, dibaca sambil ngopi bahkan makan), kualitas kertas untuk sampul dan isinya bagus. Mari kita lihat isinya..
Ada lima cerita berbeda di album perdana ini, masing2 bersambung ke edisi berikutnya. Kisah pertama mudah dinikmati karena kualitas gambarnya yang baik. Bukan garis2
outline mati yg terlihat, tapi juga tapak sketsanya: garis2 halus arsiran yang menghidupkan seluruh adegan. Proporsi bentuk, sudut pandang dan
pacing-nya enak diikuti, sehingga ceritanya menjadi jelas. Nah, ceritanya sendiri, meskipun berintikan kekuatan super, bukanlah jenis yang sekedar menampilkan adegan laga. Ada humor di sana, juga ambisi, yang semuanya masih dapat diterima logika. Sebuah kisah yang patut ditunggu, mudah2an kualitasnya dapat konsisten.
Cerita kedua ber-
setting waktu masa depan dan lokasi ruang angkasa. Ya, ini termasuk fiksi sains. Ada blocking warna2 kelabu sebagai bayangan bentuk pada outline hitam, tapi
somehow gambarnya masih terlihat datar. Inti ceritanya adalah kaum pekerja, yang masa itu beremigrasi bukan lagi dari pulau ke pulau, tapi dari galaksi ke galaksi. Akan bisa lebih menarik bila jalan ceritanya mengalur dengan lebih mulus.
Kisah ketiga berupa prosa yang diselingi ilustrasi. Keberadaan prosa dalam sebuah kompilasi cergam itu sendiri bukanlah masalah. Tapi saya tidak sanggup membacanya lebih dari halaman pertama. Banyak ketidak-cocokan dengan selera saya, baik soal gaya bahasa maupun isi cerita. Setelah
skimming sedikit, sepertinya cerita ini ditujukan pada orang2 yang terbiasa bermain
computer games, yang melibatkan tokoh2 dengan banyak nama, dengan ‘senjata’ dan
domain masing2, dan syarat demi syarat utk dapat melaju ke tahap berikut. Namun ilustrasinya sangat memikat. Semacam sketsa yang hampir selesai, lumayan matang, sudah dengan kejelasan dimensi di sana-sini. Garis2nya spontan dan berkarakter.
Setelah ini terdapat kisah lain dengan gaya gambar yang berbeda.
Setting ceritanya juga di lokasi dan waktu yang tidak terjangkau oleh kita sekarang, dengan inti cerita persaingan antar mafia dan geng2 yang lebih kecil utk bisa
survive di dunia yg sudah hancur tsb. Tampilannya menarik, dengan efek seperti cat basah,
blur, dengan perhitungan bayangan yang cukup baik. Meskipun demikian, sebenarnya bisa menjadi lebih baik lagi, misalkan bila hurufnya dibedakan antara narasi dan percakapan, dan dipilih jenis huruf yang tidak monoton dan
full caps. Latar belakang pun akan jadi lebih hidup bila diolah lagi.
Cerita terakhir menampilkan adegan ringkas yang berakhir dengan duel. Sarat laga, namun garis besar cerita belum dapat terasa. Tidak ada yg istimewa pada kualitas gambarnya. Kekurangan terlihat pada detail yang sedikit mengganggu: lokasi Western Europe, pada bulan Oktober. Tidak ada keterangan waktu, tapi melihat atribut lain pada cergam ini, sepertinya berlangsung dalam abad ini. Tokoh utama mengenakan rompi
wind breaker, karena Oktober memang musim gugur di mana biasanya banyak angin, tapi tokoh lain dan para figuran ada yang hanya mengenakan T-shirt. Mudah-mudahan selanjutnya bisa lebih konsisten pada detail sehingga memperlancar jalannya cerita.
Secara keseluruhan, isi cergam dalam SPARX masih mengarah ke dunia fiktif dan penuh khayal. Sebuah aliran yang tentu punya penggemar sendiri. Dalam edisi pertama ini, SPARX – yang memuat cergam bersambung dengan judul2 berbahasa asing – belum dapat mengakomodasi pembaca cergam yang lebih menyukai kisah2 yg lebih lokal dan membumi. Walaupun demikian, keberadaan SPARX dapat kita sambut baik sebagai peramai dunia cergam Indonesia. Mudah2an isinya makin beragam dan dapat memacu munculnya majalah2 cergam lain di Indonesia.
3,5 bintang untuk edisi perdana SPARX
Kunjungi SPARX di
http://sparxcomic.multiply.com/ untuk melihat cuplikan berbagai
artworks Bagi yang tertarik utk mengenal SPARX lebih jauh, terutama yang berada di Bandung, silakan datang ke acara berikut:
BEDAH CERGAM
Bersama Sparx dan Klab Cergam STDI
Sabtu, 9 Februari 2008
Jam 14.00-selesai
di Kampus STDI
Jl. Wastu Kencana 52 Bandung
Acara :
Mengupas habis tentang cergam Sparx bersama klab cergam STDI bandung, mulai dari cerita sampai artwork2nya.
Bocoran (preview) tentang Sparx The Compendium Edisi 2